Ibu Hamil Positif COVID-19, Bagaimana Efeknya ke Kandungan dan Janin?

Ibu Hamil Positif COVID-19, Bagaimana Efeknya ke Kandungan dan Janin?

Kehamilan akan membuat sistem imun berubah sehingga ibu lebih rentan terkena penyakit infeksi, misalnya influenza. Namun kini dengan semakin merebaknya coronavirus, apakah membuat ibu hamil jadi lebih rentan?

Jika tertular Covid-19 saat hamil, apakah infeksi tersebut dapat merpengaruh pada kesehatan bayi dalam kandungan?

Apakah ibu hamil lebih berisiko tertular virus corona?

Melansir WHO, wanita hamil tampaknya tidak berisiko lebih tinggi terkena SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19.

Namun, penelitian telah menunjukkan kemungkinan peningkatan risiko mengalami gejala COVID-19 yang lebih parah ketika ibu hamil sudah terinfeksi, dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil pada usia yang sama.

Apa saja gejala Covid-19 pada ibu hamil yang harus diwaspadai?

Gejala Covid-19 yang harus diwaspada ibu hamil umumnya sama seperti gejala-gejala coronavirus umumnya.Gejala biasanya muncul antara 2 dan 14 hari setelah terpapar virus corona, denganmasa inkubasi rata-rata 4 hari.

Gejala Covid-19 yang paling umum adalah:

  • batuk
  • demam, bisa di atas 38° C
  • sesak napas
  • kelelahan

Gejala lain termasuk:

  • sakit tenggorokan
  • sakit kepala
  • menggigil atau meriang, yang bisa disertai dengan gemetaran berulang
  • kehilangan indera penciuman dan perasa (anosmia)
  • nyeri otot dan persendian

Jika Anda sedang hamil dan mencurigai tertular Covid-19, sebaiknya langsung terapkan isolasi mandiri sembari terus berkonsultasi dengan dokter kandungan Anda lewat telemedicine.

Namun jika Anda memiliki penyakit penyerta (komorbid) lainnya, seperti asma, penyakit paru-paru, dan masalah pada hati, jangan tunda untuk berkonsultasi ke dokter.

Keberadaan komorbid dilaporkan dapat membuat gejala yang diderita menjadi lebih parah dan menjurus komplikasi, sebagaimana dialami oleh pasien COVID-19 lainnya yang tidak sedang hamil.

Apabila gejala terasa memburuk dan tingkat saturasi oksigen Anda merosot jauh di bawah normal, jangan tunda juga untuk segera ke rumah sakit.

Bagaimana efek Covid-19 terhadap kehamilan?

Hingga kini, efek virus corona terhadap kehamilan masih terus diteliti mengingat virus ini masih menyebar secara masif dalam skala global.

Sejauh ini, fakta yang diungkapkan oleh para ilmuwan maupun ahli medis tentang hubungan antara coronavirus dengan kehamilan dan janin adalah sebagai berikut:

1. COVID-19 meningkatkan risiko kehamilan prematur dan stillbirth

Ada beberapa laporan yang mengatakan bahwa ibu hamil yang positif coronavirus berisiko melahirkan bayi prematur.

Dalam surat rekomendasi yang dirilis pada 22 Juni 2021, POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia) menyatakan bahwa Covid-19 dapat meningkatkan risiko persalinan prematur dan komplikasi kehamilan lainnya, seperti stillbirth.

Pernyataan POGI sejalan dengan hasil sebuah penelitian besar di Inggris yang menunjukkan bahwa tertular virus corona sekitar waktu kelahiran dapat meningkatkan kemungkinan bayi lahir mati dan kelahiran prematur – meskipun risiko keseluruhan tetap rendah.

2. Efek Covid dapat meningkatkan risiko cacat janin

Penelitian mengenai efek covid pada kehamilan yang dapat menyebabkan bayi lahir cacat sampai saat ini masih terbatas.

Namun, setiap perubahan fungsional pada sel embrionik di awal kehamilan akibat infeksi virus apa pun sejatinya dapat menyebabkan cacat lahir yang merugikan.

Sejauh ini, peneliti melaporkan ada peningkatan risiko untuk mengembangkan cacat lahir bawaan jika infeksi SARS-CoV-2 terjadi selama awal kehamilan.

Ibu hamil positif COVID-19 tidak menularkan virus corona pada janin dalam kandungan

Sekalipun ibu hamil terkena coronavirus, belum ada bukti yang menyatakan akan terjadinya penularan dari ibu ke janin atau bayinya.

Di Wuhan, Tiongkok, yang merupakan pusat wabah virus corona, pernah dilaporkan ada kasus bayi baru lahir yang positif COVID-19. Meski demikian, penyebab bayi tersebut tertular virus ini masih belum bisa dipastikan.

Beberapa praktisi kesehatan menduga bayi tersebut terkena virus corona sejak dalam kandungan. Sebagian lagi berpendapat bayi tersebut tertular lewat percikan droplet liurdari sang ibu ketika berada di dekat sang bayi.

Berbeda dengan kasus tersebut, Akademi Obstetri dan Ginekologi Amerika Serikat (ACOG) mempublikasikan hasil penelitian kecil terhadap ibu hamil yang terinfeksi COVID-19.Hasilnya, semua ibu hamil dalam peer-review tersebut melahirkan bayi sehat yang tidak terpapar virus corona.

Berdasarkan fakta tersebut, kesimpulan sementara yang dapat ditarik adalah tidak ada risiko penularan virus corona dari ibu hamil ke janin.

Hal ini juga dikuatkan oleh publikasi CDC yang menegaskan bahwa coronavirus tidak ditemukan pada cairan ketuban.

Virus tidak menular lewat ASI

Coronavirus pun tidak terdeteksi pada ASI. Dengan kata lain, ibu yang positif COVID-19 tetap bisa menyusui bayinya.

Namun, tetap ada kemungkinan Anda menularkan virus tersebut melalui droplets karena melakukan kontak jarak dekat dengan bayi.

Oleh karena itu, Anda tetap harus menerapkan protokol kesehatan yang ketat selama masa menyusui.

Rekomendasi metode persalinan untuk ibu hamil yang positif corona

Meski demikian, sejauh ini para peneliti juga belum bisa memastikan metode persalinan yang aman untuk menghindarkan bayi dari kemungkinan tertular COVID-19 dari ibu yang positif.

Dengan demikian, prosedur kelahiran normal atau caesar masih didasarkan atas pertimbangan standar, seperti berat badan janin maupun kondisi kesehatan ibu hamil itu sendiri.

Bagaimana cara terhindar dari virus corona saat hamil?

Tindakan pencegahan penularan virus corona pada ibu hamil sama dengan orang-orang pada umumnya, yakni:

  • Menutup hidung dan mulut dengan siku ketika batuk atau bersin
  • Hindari orang-orang yang terlihat sakit, termasuk batuk dan pilek
  • Sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol.

Ibu hamil juga tidak disarankan untuk melakukan perjalanan jauh, terutama ke daerah yang terjangkit virus corona.

Jika Anda merasa baru saja pulang dari area yang terinfeksi, periksakan diri ke dokter dan komunikasikan dengan bidan atau dokter kandungan yang menangani Anda.

Ibu hamil sudah bisa mendapatkan vaksin COVID-19

Vaksin covid untuk ibu hamil sudah boleh diberikan untuk mencegah penularan penyakit.

Pemberian vaksin dapat dilakukan pada ibu hamil dengan risiko tinggi, tenaga kesehatan yang sedang hamil, serta ibu hamil dengan risiko rendah yang setuju menerima vaksinasi usai berkonsultasi dengan dokter.

Menurut data dari CDC, hingga saat ini belum ada efek samping berbeda pada oleh ibu hamil setelah menerima vaksin.

Efek samping vaksin covid untuk ibu hamil umumnya sama seperti orang-orang yang tidak hamil, seperti mual, demam, kelelahan, dan pegal linu.

Meski demikian, hal ini bukan berarti membuat Anda harus menunda atau justru menghindari vaksinasi.

Jika ingin berkonsultasi langsung pada dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.

0 Komentar